Tafsir Alquran Surat Al-Qiyamah Ayat Ke 40
اَلَيْسَ ذٰلِكَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يُّحْيِ َۧ الْمَوْتٰى ࣖ
Latin :
a laisa dzaalika biqoodirin 'alaaa ay yuhyiyal-mautaa
Artinya :
Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
» Tafsir Tahlili :
(40) Ayat ini merupakan jawaban dari semua itu, bahwa bukankah Allah yang berbuat demikian, berkuasa pula menghidupkan orang yang telah mati? Maksud pernyataan ini adalah apakah Zat yang menciptakan makhluk yang sempurna dari setetes air mani itu tidak sanggup mengembalikan orang yang sudah meninggal? Justru yang demikian itu lebih mudah bagi-Nya. Begitulah Allah menegaskan dalam firman-Nya:
وَهُوَ الَّذِيْ يَبْدَؤُا الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيْدُهٗ وَهُوَ اَهْوَنُ عَلَيْهِۗ وَلَهُ الْمَثَلُ الْاَعْلٰى فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ ٢٧
Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (ar-Rūm/30: 27);Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa bila selesai membaca surah ini, Rasulullah saw berdoa:
إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَرَأَ (أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَ) قَالَ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبَلَى. (رواه ابن مردويه عن أبي هريرة);Sesungguhnya Rasulullah saw selepas membaca Surah al-Qiyāmah, memanjatkan doa, “Subḥānaka Allahumma wa balā” (Maha Suci Engkau ya Allah dan Engkaulah yang Mahakuasa). (Riwayat Ibnu Mardawaih dari Abū Hurairah) ;Demikian pula bila selesai membaca Surah at-Tīn, beliau berdoa:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ قَرَأَ مِنْكُمْ (وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِ) فَانْتَهَى إِلَى آخِرِهَا (أَلَيْسَ اللهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِيْنَ) فَلْيَقُلْ : (بَلَى وَاَنَا عَلَى ذَ لِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ). وَمَنْ قَرَأَ (لاَ أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ) فَانتَهَى إِلَى (أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَ) فَلْيَقُل: (بَلَى). وَمَنْ قَرَأَ (وَالْمُرْسَلاَتِ) فَبَلَغَ (فَبِأَيِّ حَدِيْثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُوْنَ) فَلْيَقُلْ: (آمَنَّا بِاللهِ). (رواه أحمد وأبو داود والترمذي وابن المنذر وابن مردويه والبيهقي والحاكم وصححه عن أبي هريرة)
Rasulullah bersabda: Siapa saja yang membaca Surah at-Tīn sampai selesai, hendaklah ia berdoa, “Balā wa'ana ‘alā żālikum minasy-syāhidīn” (Ya , saya bersaksi atas hal tersebut). Dan siapa yang membaca Surah al-Qiyāmah sampai akhir, hendaklah ia berdoa, “Balā” (ya, Engkaulah yang Mahakuasa). Dan siapa yang membaca Surah al-Mursalāt hingga akhir, hendaklah ia berdoa, “Āmannā billāhi” (kami beriman kepada Allah). (Riwayat Aḥmad, Abū Dāwud, at-Tirmiżī, ibnu al-Munżir, Ibnu Mardawaih, al-Baihaqī, dan disahihkan oleh al-Ḥākim dari Abū Hurairah);Doa-doa di atas dibaca Rasulullah setelah membaca ayat-ayat seperti ini ketika di luar salat. Sedangkan ketika dalam salat, beliau tidak melakukannya dan tidak terdapat keterangan atau dalil tentang hal itu.
» Tafsir Wajiz :
37-40. Kalau manusia menduga seperti itu, sungguh itu adalah dugaan yang keliru. Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan ke dalam rahim, kemudian mani itu setelah bertemu dengan sel telur menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah Yang Mahakuasa menciptakannya dan menyempurnakan kejadiannya, lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Begitulah siklus reproduksi manusia yang diberi kesempatan hidup di dunia untuk diberi tugas dan tanggung jawab. Dan pastilah akan dibangkitkan untuk dimintai pertanggung jawaban. Bukankah Allah yang berbuat demikian hebat dan menakjubkan, berkuasa pula menghidupkan orang mati? Kalau manusia masih tetap durhaka, berarti sudah tertutup mata hatinya.
» Tentang :
Surat Al-Qiyamah mengandung pesan-pesan pokok yang berkaitan dengan iman, akhlak, dan petunjuk hidup.
Ayat-ayatnya menampilkan kombinasi ajaran teologis dan nasihat moral yang relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Teks ini sering menyertakan kisah-kisah nabi atau perumpamaan untuk memberi pelajaran praktis.
Pembaca dianjurkan memahami konteks ayat agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam penafsiran.
Surat ini menegaskan pentingnya berpegang pada wahyu sebagai sumber petunjuk dan hukum.
Dalam banyak bagian terdapat panggilan untuk bertakwa, berbuat adil, dan menjaga akhlak sosial.
Kandungan surat ini dapat dipakai sebagai dasar refleksi spiritual dan pedoman tindakan yang beretika.
Pemahaman yang matang membutuhkan pembelajaran dari ulama dan rujukan tafsir yang terpercaya.
Menghayati makna surat ini membantu membangun keseimbangan antara keyakinan batin dan praktik quotidien.
Semoga penghayatan isi surat ini menumbuhkan keteguhan iman dan perbaikan moral.
Sumber & Catatan
Teks doa pada halaman ini disusun berdasarkan doa-doa Islami yang umum digunakan oleh umat Muslim, termasuk referensi bacaan doa harian dari berbagai sumber literatur dan aplikasi Islami. Penjelasan disajikan untuk tujuan edukasi dan kemudahan pemahaman.
✍️ Ditulis oleh Tim DoaUntuk
🔄 Diperbarui pada 02 Apr 2026