DoaUntuk

Tafsir Alquran Surat Al-Ma'idah Ayat Ke 112

🗓️ 01 Mar 2026 👁️ 10.654x Dibaca Al-qur'an Lengkap
Ukuran Font:
 
 
١١٢

اِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّوْنَ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيْعُ رَبُّكَ اَنْ يُّنَزِّلَ عَلَيْنَا مَاۤىِٕدَةً مِّنَ السَّمَاۤءِ ۗقَالَ اتَّقُوا اللّٰهَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

 

Latin :
idz qoolal-hawaariyyuuna yaa 'iisabna maryama hal yastathii'u robbuka ay yunazzila 'alainaa maaa`idatam minas-samaaa`, qoolattaqullaaha ing kungtum mu`miniin

 

Artinya :
(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa yang setia berkata, "Wahai Isa putra Maryam! Bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?" Isa menjawab, "Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman."

» Tafsir Tahlili :
(112) Pada ayat ini Allah menceritakan bahwa kaum Ḥawāriyyīn pernah menanyakan kepada Nabi Isa, apakah Allah dapat menurunkan kepada mereka suatu hidangan dari langit. Pertanyaan itu bukan menunjukkan bahwa kaum Ḥawāriyyīn itu masih ragu tentang kekuasaan Allah. Mereka telah yakin sepenuhnya tentang kekuasaan Allah. Tetapi mereka menanyakan hal itu untuk lebih menenteramkan hati mereka. Sebab, apabila mereka dapat menyaksikan bahwa Allah kuasa menurunkan apa yang mereka inginkan itu, maka hati mereka akan lebih tenteram, dan iman mereka akan bertambah kuat.
Hal ini juga pernah terjadi pada Nabi Ibrahim ketika beliau memohon kepada Allah agar Allah memperlihatkan kepadanya bagaimana Dia kuasa menghidupkan makhluk yang telah mati. Allah berfirman:;وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰىۗ قَالَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗقَالَ بَلٰى وَلٰكِنْ لِّيَطْمَىِٕنَّ قَلْبِيْ ۗقَالَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِفَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗوَاعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌحَكِيْمٌ ࣖ
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, ”Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, ”Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, ”Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” (al-Baqarah/2:260)
Dengan demikian, pertanyaan kaum Ḥawāriyyīn tadi dapat diartikan sebagai berikut, “Hai Isa, maukah Tuhanmu memperkenankan bila kami memohon kepada-Nya agar Dia menurunkan kepada kami suatu hidangan?” Jadi yang mereka ragukan bukanlah kekuasaan Allah untuk mengabulkan hal itu melainkan apakah Tuhan bersedia mengabulkan permintaan Nabi, bila Nabi Isa memintakan hal itu kepada-Nya untuk mereka. Patut diperhatikan dalam ayat di atas, bahwa ketika kaum Ḥawāriyyīn mengemukakan pertanyaan mereka kepada Nabi Isa, mereka menyebutkannya dengan namanya, lalu diiringi dengan sebutan ‘putra Maryam’. Ini untuk menegaskan bahwa mereka tidak menganut kepercayaan bahwa Isa adalah Tuhan, atau anak Tuhan. Mereka yakin bahwa Isa adalah makhluk Allah yang dipilih untuk menjadi Nabi dan Rasul-Nya, juga adalah putra Maryam, bukan putra Allah.
Ḥawāriyyūn atau Ḥawāriyyīn, dari kata Ḥawārī, “bahan pemutih pakaian, yang bersih dan bebas dari segala noda; sahabat dan pembela;” menurut Mu‘jam Alfāẓ al-Qur′ān al-Karīm, Ḥawārī, murni dan bersih dari segalanya, umumnya dipakai untuk mereka yang benar-benar ikhlas untuk para nabi,” atau “pembelaan, dukungan,” “pembela-pembela” (Āli ‘Imrān/3: 52). Diduga dari asal bahasa Abisinia. Menurut Muhammad Asad dalam The Message of The Qur′an, “orang yang memutihkan pakaiannya dengan mencucinya,” karenanya dikatakan juga untuk pengikut-pengikut Nabi Isa sebagai simbul orang yang berhati bersih. Penemuan Dead Sea Scroll belum lama ini sangat mendukung pendapat ini, bahwa kata ḥawārī dipakai untuk menunjukkan orang yang menjadi anggota Persaudaraan Essense, yaitu sekelompok golongan agama di Palestina pada masa Nabi Isa, yang mungkin juga termasuk dia sendiri. Golongan Essense ini terutama dikenal karena kegigihannya mempertahankan kebersihan moral serta tidak mementingkan diri sendiri, dan mereka selalu mengenakan pakaian putih. Nabi Muhammad memberi gelar ḥawārī kepada Zubair bin ‘Awwām dengan mengatakan:
إِنَّ لِكُلَّ نَبِيٍّ حَوَارِيًّا وَإِنَّ حَوَارِيِّى الزُّبَيْرُ بْنُ اْلعَوَّامُ (رواه البخاري والترمذى)
“Setiap nabi punya seorang ḥawārī, dan ḥawārī-ku adalah Zubair bin ‘Awwām”. (Riwayat al-Bukhārī dan at-Tirmiżi)
Dalam beberapa tafsir bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “pengikut,” “sahabat,” “penolong” atau “tetap “Hawariyun;” sementara Bibel menerje-mahkannya dengan “murid”.
Pada akhir ayat tersebut diterangkan jawaban Nabi Isa kepada kaum Ḥawāriyyīn. Ia menyuruh mereka agar bertakwa kepada Allah, yaitu agar mereka tidak mengajukan permintaan ataupun pertanyaan yang memberikan kesan seolah-olah mereka meragukan kekuasaan Allah. Ini merupakan suatu pelajaran yang amat baik, sebab orang-orang yang beriman haruslah memperkokoh imannya, dan melenyapkan segala macam hal yang dapat mengurangi keimanan. Allah Mahakuasa, atas segala sesuatu. Menyediakan suatu hidangan adalah suatu pekerjaan yang tidak patut untuk dimohonkan kepada Allah. Dia Mahamulia. Dia telah mengaruniakan kepada hamba-Nya segala sesuatu di bumi, baik berupa bahan makanan, pakaian, perumahan, dan sebagainya. Maka tugas manusialah untuk mengolah bahan-bahan yang tersedia itu untuk mereka jadikan makanan, pakaian, rumah dan sebagainya untuk kepentingan mereka sendiri. Allah tidak meminta imbalan atas nikmat yang telah disediakan-Nya, yang tak terhitung jumlahnya. Apabila Allah tidak menurunkan hidangan dari langit, maka hal itu tidaklah mengurangi arti kekuasaan dan kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya. Sebab itu, janganlah mengurangi iman dan keyakinan kepada-Nya.

» Tafsir Wajiz :
Ingatlah, wahai Rasulullah, ketika al-hawariyyun, para pengikut setia Nabi Isa, berkata kepadanya, “Wahai Isa putra Maryam! Apakah Tuhanmu berkenan, jika kami mengajukan permohonan untuk menurunkan hidangan dari langit kepada kami supaya kami bisa menikmati hidangan bersama kamu?” Nabi Isa menjawab, “Bertakwalah kepada Allah, wahai al-hawariyyun, jika kamu benar-benar orang-orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan mengabulkan permohonanmu itu.”

» Tentang :
Surat Al-Ma'idah menegaskan pemenuhan janji, kepatuhan pada perjanjian, dan batasan halal-haram.
Surat ini memuat ketentuan konsumsi makanan, peraturan etika, dan penegakan hukum sosial.
Pesan moral termasuk menjaga kesucian akhlak serta tidak menggunakan agama sebagai alat keuntungan.
Al-Ma'idah mengingatkan pentingnya integritas dan persamaan di depan hukum.

Sumber & Catatan

Teks doa pada halaman ini disusun berdasarkan doa-doa Islami yang umum digunakan oleh umat Muslim, termasuk referensi bacaan doa harian dari berbagai sumber literatur dan aplikasi Islami. Penjelasan disajikan untuk tujuan edukasi dan kemudahan pemahaman.

 

✍️ Ditulis oleh Tim DoaUntuk
🔄 Diperbarui pada 01 Mar 2026

Kata Kunci:

Surat Al-ma'idah ayat ke 112 surat al maidaharti al maidahmakna al maidahkeutamaan al maidahterjemahan al maidah

Bagikan:

Facebook Twitter